REVIEW FILM MERAH-PUTIH (BERSIIIHHH…!!!) August 17, 2009
Posted by sigitkusuma in Uncategorized.add a comment
Berikut saya rincikan the-so-called “tokoh-tokoh muslim” yang ada di film ini:
1. Soerono muncul sebagai tokoh pengikut (follower/supporter) yang manut-manut dan tidak penting (tidak penting karena dia mati di tengah cerita. Spoiler? Ah, anda tak perlu capek2 menonton film ini).
2. Marius (diperankan oleh Darius) digambarkan paling menyebalkan, spoiled, manja, dan paling pengecut. Nuff said.
3. Si gendut (lupa sapa namanya) digambarkan sebagai muslim yang percaya jimat dan menjahit potongan kertas Al-Qur’an di bajunya agar dia selamat di medan pertempuran. Dan langsung mati tertembak dengan konyol di adegan berikutnya.
4. Lukman Sardi (lupa dia berperan sebagai siapa) muncul sebagai sosok muslim yang indecisive dan tidak banyak berjasa.
5. Kapten/jendral dan bawahannya yang niat berperangnya hanya untuk “mati sahid – demi Allah” tanpa mempedulikan memenangkan perang ato nggak. Sangat… sangat… dangkal.
Kenapa dangkal? Patut dimaklumi, scriptwriternya memang bukan orang muslim. Ah, bahkan dia bukan orang Indonesia. Semua dialog yang ada di film ini dibuat dalam bahasa Inggris, yang kemudian diterjemahkan secara kasar ke dalam bahasa Indonesia untuk diucapkan oleh aktor-aktor film ini. Tak heran akting mereka tampak kaku, apalagi ditambah dengan penggunaan bahasa Indonesia baku yang bikin pegal.
Tokoh-tokoh yang ada di film ini tampak jarang terdengar mengucapkan kata “Indonesia” atau “RI”. Mereka lebih suka menggunakan kata “Republik” atau “Demi Republik!”, aneh bukan? Promosi ideologi demokrasi dalam film kemerdekaan?? Padahal dahulu tentara sekutu yang ingin menjajah kita, datang dengan membawa ideologi demokrasi loh…
Dari sisi tentara Belanda. Para aktornya tampak culun dan tidak gagah. Beberapa tampak kurus, dan jalan dengan tidak tegap. Jangan-jangan castingnya mementingkan wajah bule tanpa seleksi perawakan?
Film ini juga agak terinspirasi Saving Private Ryan. Tokoh utamanya sama-sama mantan guru. Dan di akhir cerita, para jagoan kita juga meng-ambush tentara musuh untuk meraih kemenangan. SPR banget…
Secara keseluruhan, film ini sebetulnya sangat lucu (atau lebih tepatnya: konyol). Saya dan teman-teman tertawa-tawa sepanjang film karena adegan-adegan yang tidak rasional, dan tidak ada yang protes. Mungkin karena penonton lain juga merasa film ini konyol. Sisanya, film ini bikin ngantuk dan bikin ingin cepat keluar dari gedung bioskop (saya lihat bahkan ada yang walkout di tengah film).
Memang sih, ledakannya tampil dahsyat (dan mantaap! juga inbox & derings), efek tembak-tembakannya realistis, sinematografinya baik (walau banyak long shot yang tidak pas di saat yang seharusnya kritis/genting). But that’s all…
Merah-Putih? Mendingan nonton G.I.Joe kemana-mana… ayo tentara amerikaaaa…!!!!!!
Surat Saya untuk Masyarakat Film Indonesia (MFI) April 16, 2009
Posted by sigitkusuma in Uncategorized.Tags: demokrasi, film, freesex, indonesia, sensor
7 comments
MFI atau Masyarakat Film Indonesia (di antaranya adalah Riri Riza, Mira Lesmana, Nia Dinata, Shanty, dan Dian Sastrowardoyo) bilang, film Indonesia tidak akan bisa maju karena sensor dari LSF yang otoriter.
SALAH!!!
Saya yakin selama ini film Indonesia terhambat pertumbuhannya bukan karena LSF, tapi karena mayoritas sineas Indonesia:
- latah
- profit oriented dan bukannya ingin memberi pesan yang membangun
- tidak berani beresiko sehingga tidak total dalam membuat film (contoh: post-production house dianggap mahal dan hanya dipakai untuk iklan2, sehingga efek2 & animasi dalam iklan terlihat lebih bagus daripada efek2 dan animasi dalam film layar lebar)
- manja, tidak mampu kreatif menampilkan adegan yang simbolik atau menampilkan-sebagian-untuk-mewakili-keseluruhan, sehingga menyalahkan LSF untuk merapikan film mereka yang “berantakan”
Padahal, Hollywood sendiri sudah mulai sopan dalam film2 mereka. Tidak seperti dahulu, sedikit2 adegan telanjang, sedikit2 adegan seks.
- “Film-festival oriented”, sehingga film2 pun dibuat agak seragam dengan film-film yang ditayangkan di festival yang kebanyakan memang vulgar – bahkan sangat vulgar – untuk menarik perhatian juri festival film tersebut.
- terlalu terjebak oleh pujian “Film Indonesia itu eksotis” oleh orang2 luar. Padahal bagi orang Indonesia, tidak ada istilah “eksotis” bagi film2 yang berasal dari negara mereka sendiri.
- menganut paham modernisme yang salah. Berpikir bahwa gaya hidup modern berarti freesex. Padahal kota2 termodern di dunia seperti Israel melarang pemasangan billboard Lux yang terlalu mengekspos kulit sang bintang “Sex & the City”. Negara modern seperti Iran yang mampu membuat reaktor nuklir, memberi pinjaman lunak bagi pasangan2 muda untuk menikah, agar mereka tidak terjerumus ke dalam freesex. Australia sebagai salahsatu negara maju di dunia saja memprotes film “The Golden Compass” yang dianggap atheis dan menyudutkan agama Nasrani.
Saya hanya tidak ingin Indonesia ini menjadi negara yang sok demokratis, padahal negara2 pelopor demokrasi sendiri sudah membatasi rakyatnya demi kebaikan rakyat mereka sendiri.
Ada suatu fakta bahwa, volume belanja orang Indonesia (sebagai negara miskin-berkembang) terhadap barang mewah sudah melampaui volume belanja negara2 kaya-makmur seperti Inggris. Itulah Indonesia!
Hello world! January 11, 2009
Posted by sigitkusuma in Uncategorized.1 comment so far
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!